12/11/2014

BlankOn Linux, Sepatu, dan Aku


Akhirnya hadiah yang aku tunggu-tunggu pun tiba. Malam itu aku hendak menutup pintu depan rumah ketika dik Mutho' berlari-lari kecil menghampiriku sambil menyodorkan sebuah bingkisan berwarna coklat. “Pasti sepatu,” tebakku. “Matur nuwun...”

Bingkisan dari Tangerang itu langsung kubawa masuk dan kutunjukkan kepada istri dan dua putriku; Alma dan Nabila. Mereka langsung berebutan untuk membukanya. Betul, bingkisan itu berisi sepatu Fans dan ternyata ada buku dan piagamnya juga. Alhamdulillah.
Beberapa hari sebelumnya memang aku baca pengumuman Pemenang Sayembara Menulis Periode II;
Pemenang Sayembara Menulis Periode II 
Bertepatan dengan Hari Pahlawan!! Panitia selesai menyeleksi tulisan yang masuk sejak 18 Agustus hingga akhir Oktober ini. Kemudian panitia memutuskan nama-nama dibawah ini untuk menjadi pemenang. Pemilihan pemenang berdasarkan judul yang menarik, ide dan materi yang orisinil, kemudian bahasa penulisan, apakah ada cerita lain dari penulis atau langsung satset batbet.
1. SlameTux
2. Faiq
Kemudian pemenang edisi khusus atas kontribusi terus-menerus dalam menulis panduan:1. Muhammad Mustofa, pemenang sayembara periode I. 
Masing-masing pemenang akan mendapatkan sepatu edisi Pengembang BlankOn beserta marchendise dari sponsor Panduan. Pemenang edisi khusus akan mendapatkan buku dari Putu Shinoda dan Paket Internet dari IndoCenter. 
*ps. Pemenang sila menguhubungi estu[at]di.blankon.in untuk mekanisme pengiriman hadiah “secepatnya”. 
*pss. Periode selanjutnya dimulai hari ini dengan tema Panduan Video. Selamat bikin panduan yang keren. 
SalamPanitia

Sebagai pengguna linux yang masih 'pemula' saya tidak menyangka bisa memenangkan sayembara menulis di panduanlinux.or.id. Tapi saya memang sangat berharap bisa menang dalam dalam beberapa sayembara menulis agar mendapat hadiah. Ini adalah ndilalah kersane Allah.
Aku mulai mencoba linux setelah membaca Majalah Info Linux extra #1 dengan tema OpenOffice.org yang diterbitkan oleh PT. InfoLinux Media Utama pada tahun 2010. Majalah ini aku beli dari kios koran dan majalah di dekat makam Habib Shodiq Margoyoso, Jepara.
Sebagai guru TIK saya tertarik dengan Open Office. Pada buku Pelajaran TIK kelas VII karya Henry Pandia dijelaskan bahwa Open Office adalah perangkat lunak perkantoran yang multiplatform dan open source. Pada bagian yang lain, buku ini menjelaskan bahwa menggunakan perangkat lunak bajakan merupakan tindakan pelanggaran hukum. Sungguh aku malu bila menjadi guru TIK tapi selalu menggunakan perangkat lunak bajakan. Hal ini membuat aku ingin mempelajari linux lebih dalam. Maka pada kesempatan yang lain aku membeli lagi majalah Info Linux Edisi 09/2010 yang disertai bonus DVD yang antara lain berisi iso Sabily 10.04 Manarat dan BlankOn 6.0. Ombilin. Kedua sistem operasi ini sangat ingin aku coba. Akan tetapi karena masih minimnya pengetahuanku, saat itu aku belum bisa memanfaatkan DVD tersebut.
Sepulang dari PLPG TIK di Semarang, aku merasa sang notebook perlu diinstall ulang agar bersih dari virus dan dapat berjalan dengan lancar lagi. Memang, selama PLPG, kami para peserta dapat mengakses internet secara gratis melalu jaringan nirkabel. Fasilitas ini tentu aku manfaatkan untuk browsing dan mengunduh berbagai file. Baru satu hari di PLPG sudah ada beberapa laptop peserta yang tiba-tiba di dekstopnya ada peringatan bahwa sistem operasinya adalah bajakan. Peringatan tersebut memang bisa diatasi dengan berbagai trik. Tapi aku ingin mencoba memakai sistem operasi yang tidak bajakan.
Bermodal informasi dari majalah info linux, aku coba membuka halaman www.blankonlinux.or.id ternyata ada blankOn Sajadah maka aku coba mengunduh file iso BlankOn Sajadah 6.0. Ombilin. Saat itu aku memakai USB modem CDMA dengan simcard Telkom Flexy dengan paket unlimited. Setelah beberapa hari, akhirnya selesai juga. Mungkin karena keterbatasan pengetahuan, saya gagal memasang Blankon walau sudah beberapakali mencoba. Beberapa kesalahan yang aku lakukan saat itu antara lain;
  1. tidak mengecek kembali iso hasil unduhan apakah sudah sama persis dengan file iso aslinya,
  2. membakar file iso ke dalam DVD tidak sebagai iso
  3. terburu-buru memasang sistem operasi baru tanpa mencobanya terlebih dahulu dalam mode live DVD
  4. kurang memahami tatacara pemasangan sistem operasi
Sistem operasi lama sudah hilang tapi sistem operasi baru belum berhasil terpasang. Hal ini mungkin lebih dikarenakan file iso yang aku unduh kurang sempurna karena proses pengunduhan yang beberapakali terhenti dan dalam waktu berhari-hari. Maka aku coba menggunakan DVD bonus dari majalah Info Linux Edisi 09/2010. Sistem operasi yang muncul adalah Sabily 10. Manarat. Saya sangat jatuh cinta dengan tampilan sistem operasi islami ini. Tapi sayang proses pemasangan sistem operasi tidak dapat berjalan karena DVDnya sudah mempunyai beberapa goresan.
Sistem operasi lama sudah hilang tapi sistem operasi baru belum berhasil terpasang. Sang Notebook harus segera dapat dipakai. Maka aku segera meluncur ke kios koran dan majalah di dekat makam Habib Shodiq Margoyoso untuk membeli majalah Info Linux yang ada bonus DVDnya dan berisi file iso linux. Yang tersedia saat itu adalah Info Linux edisi 01/2011 dengan bonus DVD yang antara lain berisi iso Fedora 14. Alhamdulillah dengan DVD bonus Info Linux ini, aku berhasil memasang sistem operasi Fedora ke dalam Sang notebook.
Fedora memang cantik, tapi sebagai pengguna baru yang coba-coba sendiri saya kesulitan dalam memasang beberapa perangkat lunak. Hal ini mungkin juga dikarenakan masih sangat sedikitnya pengetahuan dan pemahamanku tentang sistem operasi linux dan belum menemukan tempat bertanya yang tepat dan belum punya akses internet yang lancar.
Notebook dengan sistem operasi Fedora ini pernah dua kali aku bawa ke Semarang. Pertama; saat ada pelatihan TIK oleh BPTIK. Pada acara tersebut dengan Fedora aku dapat mengakses layanan intenet lewat jaringan nirkabel. Sepertinya lebih lancar dan cepat bila dibandingkan notebook pak Alfan temanku, yang saat itu belum memakai Linux. Yang kedua; saat aku harus mengentry nilai raport peserta UN di kantor Dinas Pendidikan Semarang. Aku tidak tahu, mengapa saat itu sang petugas tidak berhasil menyambungkan Fedoraku dengan jaringan internetnya.

Di kemudian hari baru saya ketahui bahwa ternyata menurut Distrowacth, Fedora dikelompokkan sebagai sistem operasi linux tingkat menengah. Mungkin karena itulah Kak Arif, kakak iparku menyarankan untuk mencoba Ubuntu. Pada liburan lebaran, Kak Arif pulang dari Jogja ke Jepara dengan membawakan aku beberapa CD iso Linux, salah satunya Ubuntu 10.04
Post a Comment

Yang Sering Dibaca